Jumat, 25 April 2008

Ada Kehidupan Hangat di Negeri Salju

Hari Sabtu, pagi-pagi sekali sambil menggigil saya menelepon Emil. Sebelumnya, saya lihat dari jendela kamar, salju sudah menutupi jalan. Di beberapa bagian, salju pasti sudah menjadi es sehingga licin kalau diinjak.
“Selamat pagi. Bisa bicara dengan Emil?”, tanya saya ketika telepon sudah tersambung.
“Tentu bisa. Siapa ini?” Lelaki yang mengangkat telepon di seberang sana bertanya dengan suara bariton dan terdengar jantan, pasti bukan Emil. Walaupun fisiknya laki-laki, gerak-gerik Emil dan cara bicaranya lebih mirip perempuan.
“Saya … eeeh … seorang penghuni kamar di depat Station Den Haag.”
“Tunggu sebentar.” Tidak lama kemudian Emil bicara di telepon.
“Selamat pagi … apa yang bisa saya bantu. Emil disini. Ada masalah dengan kamarnya?”
“Persis. Saya Bambang. Pemanas di kamar saya rusak tadi malam. Saya hampir mati kedinginan. Tolong dibetulkan pagi ini, segera Emil.”
“Saya tidak bisa pagi ini. Saya sudah punya janji. Tapi saya pasti akan datang sore nanti. Jangan khawatir nanti malam pemanas itu akan bisa kamu pakai lagi.”
“Tapi bagaimana saya bisa bertahan hidup siang ini tanpa pemanas? Salju sudah banyak di luar. Tolonglah. Perbaikilah pagi ini.”
Sebenarnya siang itu saya ingin memakai pemanas itu untuk mengeringkan pakaian saya. Tapi alasan itu urung saya kemukakan pada Emil. Orang Srilangka di kamar sebelah bilang bahwa Emil pasti tidak suka jika pemanas kamar dipakai untuk mengeringkan pakaian yang baru dicuci. Biasanya pemanas akan cepat rusak, katanya. Mungkin itu juga yang menyebabkan pemanas di kamar saya itu rusak tadi subuh.
“Bambang, siang ini kamu pergilah melihat-lihat kota Den Haag. Kamu masih muda harus banyak melihat. Oke? Jangan khawatir, saya akan mengurus kamar kalian baik-baik. Nanti sore pemanas akan saya perbaiki. Mungkin juga saya datang lebih siang, kalau pertemuan saya pagi ini cepat selesai.” Dia lalu menutup telepon.
Saya kecewa dengan penolakan itu. Hari Sabtu sudah saya jadwalkan sebagai hari mencuci. Apa yang akan dikatakan orang jika melihat saya berbaju kotor atau kusut. Kalau saya berjalan di samping Raymond orang Ambon yang perlente itu, kesenjangan akan terlihat jelas. Jadi … tekad saya … pakaian kotor dari seminggu terakhir ini, harus dicuci hari Sabtu ini juga, bagaimanapun caranya. Saya tidak bisa mengerjakannya pada hari Minggu, karena saya sudah punya acara lain. Di dapur, saya bertemu dengan teman se-apartemen, dua orang dari Srilangka. Mendengar keluhan dari saya mereka menawarkan pemanasnya untuk dipakai. Tapi saya tolak. Besar kemungkinan, pemanas di kamar saya dan di kamar mereka umurnya sama. Kalau yang di kamar saya hari ini rusak, bisa saja pemanas di kamar mereka dalam hitungan jam akan rusak juga. Kalau janji Emil untuk memperbaiki pemanas saya sore ini meleset, dan pemanas di kamar sebelah juga rusak siang ini, maka seluruh apartemen akan dingin total nanti malam. Tidak ada tempat untuk mengungsi. Kesimpulannya, memakai pemanas mereka untuk mengeringkan cucian saya, bukan keputusan yang baik.
Jadi akhirnya pagi itu saya pergi membawa tas berisi pakaian kotor menuju penatu terdekat. Saya pernah lewat di depannya beberapa kali, jadi saya tahu kemana harus pergi. Secara umum saya sudah tahu bahwa mesin cuci otomatis itu akan beroperasi setelah kita masukan uang koin tertentu. Tapi saya terkejut melihat petunjuk pemakaian yang panjangnya sampai delapan baris. Dalam bahasa Belanda pula. Ooh … kalau tahu akan begini, saya tadi akan membawa kamus bahasa Belanda. Saya tertegun lama di depan satu mesin cuci, memelototi petunjuk itu, mengira-ngira apa artinya. Apakah saya harus kembali ke apartemen untuk mengambil kamus dulu? Apakah akan aman kalau saya tinggalkan tas disini? Bagaimana saya menjelaskan pada pemilik penatu ini tentang apa yang terjadi dengan saya? Belum tentu juga dia bisa mengerti bahasa Inggeris saya. Sementara bahasa Belanda saya terbatas pada kata kerja, kata benda atau kata sifat. Struktur kalimat saya masih acak-acakan. Ah … memalukan sekali.
Tiba-tiba seorang lelaki mendekati saya. Mungkin dia sedari tadi memperhatikan saya dan memahami masalah saya. Dia berusaha bicara walaupun terbata-bata, kelihatannya dia punya hambatan dengan otot bibir atau lidahnya. Saya punya perasaan, orang ini sedang berusaha menjelaskan cara memakai mesin ini. Saya punya cukup kosa kata bahasa Belanda, tapi tak satupun kata yang bisa saya tangkap dari orang ini. Di tanah air, kalau bertemu dengan orang berbicara seperti ini, saya akan menyebut orang ini terbelakang. Tapi karena wajah laki-laki ini mengingatkan saya pada Stephen Hawking, saya jadi khawatir kata “terbelakang” malah lebih cocok diterapkan pada saya. Mungkin dia menjadi tidak sabar melihat saya lambat mengerti apa yang dia katakan. Lalu dia menyederhanakan instruksinya. Tangan saya dituntun ke tempat saya bisa memperoleh deterjen. Lalu saya disuruh memasukan pakaian kotor ke mesin. Lalu isi air. Lalu masukan deterjen. Lalu masukan koin. Lalu tekan satu kenop. Ngeeeeng … mesin cuci mulai mencuci baju saya.
Setelah mengerti cara mengoperasikan mesin yang ini, maka mengoperasikan mesin pengering akan mudah saja. Stephen Hawking terlihat sibuk dengan cuciannya sendiri. Saya juga merasa tidak akan ada gunanya mencoba beramah-tamah kepadanya, karena jelas ada kesenjangan komunikasi, terlebih untuk konsep-konsep yang lebih runit ketimbang menyalakan mesin cuci. Jadi saya sibukkan diri saya sendiri dengan membaca buku yang saya bawa. Tapi setelah selesai dengan mesin pengering, sebelum saya pulang, saya menghampiri dia.
“Terima kasih. Kamu baru saja menyelamatkan saya”, ucap saya dalam bahasa Indonesia dan Inggeris, sambil menjabat erat tangan laki-laki itu dengan tulus. Saya yakin dia mengerti rasa penghargaan saya, dalam bahasa apapun saya mengucapkannya. Saya pulang berjalan pulang ke apartemen dengan membawa baju bersih dan kering, dan tangan kanan yang masih hangat bekas dipegang oleh Stephen Hawking.

KIM

Hari Senin, sekitar pukul 7. Telepon berdering.

“Bisa bicara dengan Ibu Felicia?”

“Saya sendiri …”

“Saya dari klinik … mau mengabarkan … Kim tidak bisa bertahan. Sekitar pukul 1 tadi malam dia pergi.”

“………,” saya kehilangan kata-kata.

“Ibu bisa ke klinik untuk melihatnya.”

“Ya …. saya akan segera kesana.”

<>

Kemarin sore dia berjalan perlahan menuju pintu dapur. Tubuhnya basah.

“Ya ampun Kim … apa yang terjadi? Kamu jatuh ya?” Saya cepat meraih handuk, lalu melilitkannya di tubuh Kim.

Kim duduk di lantai dekat pintu dapur. Saya bisa melihat benjolan sebesar telor bebek di dadanya, sebelah kanan bagian bawah. Saya jadi ikut duduk di dekatnya. Kuraba benjolan itu … terasa keras. Badannya menggigil, lalu menyenderkan badannya ke badan saya … berusaha menghangatkan badannya.

Tanpa mengerang dia berdiri lalu berjalan masuk ke rumah. Dengan susah payah dia naik ke sofa, dia merebahkan badannya disitu. Air di tubuhnya sudah pindah ke baju, ke celana, ke handuk, ke sofa. Mungkin air sudah mengambil kehangatan dari tubuhnya. Tubuhnya makin dingin. Kutawari dia minuman hangat, dia hanya diam. Mungkin benjolan di dadanya itu yang membuat dia enggan minum. Ya Tuhan … apa yang harus saya lakukan?

“Katakanlah Kim … apa yang terasa?”

Tanganku secara reflek megusap-ngusap benjolan itu ke arah bawah. Pelahan-lahan benjolan mengecil dan menghilang seperti masuk ke rongga perut.

Susah sekali menebak perasaan Kim, dia tidak mengeluh. Ekspresi wajahnya tetap sama. Apakah merasa lebih baik? Lebih buruk? Atau tetap? Tapi badannya makin dingin.

“Oke Kim … saya akan membawamu ke dokter.”

<>

“Suhu badannya sangat dingin. Termometer saya sampai tidak bergerak penunjukannya.”

“Hipotermia?” tanya saya sekenanya. “Tadi ada benjolan sekitar sini dok,” saya menunjuk sambil memberi gambaran dengan telunjuk tentang ukuran benjolan itu. Dokter lalu meraba bekas tempat benjolan itu, sementara tangan yang satunya lagi meraba bagian dada di sebelah yang lain. Dia tampak seperti membandingkan jumlah tulang iga di sebelah kiri dan kanan.

“Kayaknya tulang iganya patah. Saya anjurkan Ibu bawa Kim besok pagi ke rekan dokter senior saya, mungkin harus dibedah. Coba saya konsultasi dulu sama dia.” Dia lalu berusaha menghubungi rekannya itu, tapi mungkin pada hari Minggu dokter memakai nomer telepon yang lain. Hubungan tidak tersambung. Lalu dokter meraba dada Kim lagi.

“Saya foto ronsen dulu ya Bu.” Lalu dia keluar berjalan ke kamar sebelah, menyiapkan sesuatu sekitar 10 menit, lalu kembali.

“Oke Kim … difoto dulu.” Kami semua menuju ke kamar sebelah.

Setelah difoto, dokter memasang alat infus. Lalu dia keluar kamar untuk memproses foto ronsen. Saya mengusap-ngusap badan Kim yang tergolek kembali di meja pemeriksaan, berharap bisa memberi kehangatan pada Kim. Kotoran dari air got sebagian sudah pindah ke tangan saya … biarlah.

“Jangan sakit Kim. Kamu satu-satunya temanku.”

<>

“Ibu Felicia, dengan memperhatikan foto ronsen ini saya cukup yakin ada beberapa tulang iga Kim sudah patah atau hilang. Lalu diafragma Kim kemungkinan besar telah rusak. Jadi benjolan yang tadi Ibu lihat kemungkinan besar itu organ tubuh dari rongga perut. Lalu, karena diafragma rusak maka tekanan di rongga dada menjadi turun sehingga paru-paru sulit bekerja.”

“Kapan kira-kira patahnya atau hilangnya terjadi. Dan apa biasanya penyebabnya?”

“Sulit untuk memperkirakan kapan terjadinya dan apa penyebabnya kalau hanya dilihat dari luar. Tapi bisa disebabkan oleh benturan.”

“Saya anjurkan Kim tinggal dulu disini supaya bisa awasi. Jadi kalau ada apa-apa saya bisa segera ambil tindakan. ”

Dengan berat hati saya tinggalkan Kim. “Saya tinggalkan kamu disini bukan karena saya tidak sayang, tapi karena kamu akan ditangani oleh ahlinya. Besok saya kesini,” saya berbisik sambil mengusap kepalanya. Matanya yang terpejam, tidak membuka ketika saya pergi. Napasnya berat tapi ada.

<>

Kim biasanya menemani saya melewatkan waktu siang saat saya sendiri di rumah, mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Selagi saya menyetrika, saya biasa mendiskusikan cerita sinetron dengan Kim, atau membicarakan kabar-kabar tentang pribadi artisnya.

Kalau saya sedang duduk di sofa menonton tv, kadang-kadang dia ikut duduk. Sering terjadi, dia pelan-pelan menyentuhkan hidungnya ke tangan, lalu bergerak ke atas. Kalau sudah sampai ke leher biasanya saya mengibaskan tangan sambil berteriak mengusirnya :” Kim .. berhenti … geli. Kamu tidak sopan.” Kalau sudah diperlakukan seperti itu, dia lalu menghadapkan wajahnya ke tv. Tapi entah dia menontonnya atau apa.

Kalau suami saya sedang tidak mau diganggu dia, dia biasanya disuruh main di halaman, lalu pintu ditutup. Kalau hari sedang tidak begitu nyaman, biasanya dia datang ke jendela yang ada di samping meja tempat saya biasa mengetik. Dia tidak mengetuk jendela, tapi hanya berdiri di luar sambil memperlihatkan ekspresi minta dikasihani. Kalau sudah begitu saya tutup pintu kamar kerja saya, lalu saya biarkan dia masuk kamar lewat jendela. Saya biarkan dia bermain di dalam kamar. Dengan secarik kertas, atau sebuah kantong plastik dia bisa melewatkan waktu berjam-jam.

<>

Saya mengirim sms ke suami saya. Pendek saja, takut mengganggu konsentrasi dia dalam bekerja. “Mas, Kim meninggal.” Lalu dia membalas. “Kamu bisa menanganinya sendiri? Atau saya harus pulang?”. Saya balas lagi, “Ngak usah lah. Saya akan tangani sendiri.”

Saya merasa lebih bebas kalau menghabiskan waktu sedih saya sendirian, dengan cara saya sendiri. Kadang-kadang kalau sedang kesal, saya melakukan pekerjaan isik yang berat, sambil menahan kesal atau marah atau sedih.

Semua gambar dalam memori tentang Kim, mulai datang bergantian. Mulai dari saat kedatangannya yang pertama. Tidak banyak ekspresi yang bisa dia buat dengan wajahnya. Yang paling saya kenal adalah wajah meminta dikasihani, ditolong, atau dibantu. Suaranya bening, nyaring serta kekanak-kanakan. Belakangan suaranya agak berubah, mungkin karena memasuki usia tanggung.

Dia juga sangat aktif. Senang naik pohon, lemari, jendela atau rak buku. Beberapa kali jatuh. Tapi setiap kali jatuh, setelahnya dia segera bisa berjalan lagi dengan normal. Sebenarnya saya sangat khawatir dia mengalami retak tulang atau apa. Tapi sikapnya tidak menunjukan bahwa dia sudah terluka.

<>

Pasti ada orang iseng yang sudah menendang perutnya sehingga dia jatuh ke selokan dan membuat dia basah kuyup. Tendangan itu yang membuat diafragmanya rusak. Kim sudah sering jatuh sendiri dari ketinggian, tapi jalannya tetap tegak. Dia sangat alami, pasti dia punya mekanisme perlindungan diri dari luka karena jatuh. Jadi, luka pada diafragma ini pasti dibuat oleh serangan dari luar, dari orang, bukan terjadi waktu Kim jatuh sendiri. Kok orang bisa begitu tega? Apa salah Kim?

Dia pun sering jatuh sendiri ke got di depan rumah itu, tapi tidak pernah menyebabkan dia menjadi lemah dan meninggal seperti sekarang ini. Kalau air got itu begitu beracun sehingga kalau terminum bisa membuat meninggal, pasti Kim sudah sakit dan meninggal sejak dulu. Pasti kejatuhannya yang terakhir ini terjadi sewaktu diafragmanya sudah rusak. Dan kerusakan itu terjadi karena ditendang oleh orang.

Saya jadi mengutuk-ngutuk, entah kepada siapa.

<>

Agak siang, ada telepon lagi masuk.

“Bu Felicia, mungkin lebih baik saya saja yang membawa Kim pulang ke rumah Ibu. Saya sudah punya alamatnya.”

“Baik …” jawab saya singkat saja.

<>

“Ke belakang saja,” kata saya pada orang yang datang membawa Kim pulang. Lalu saya menunjuk ke halaman belakang. Disitu ada lubang yang tadi saya buat sendiri sambil menahan tangis. Tangan saya memberi isyarat agar Kim segera dimasukkan ke lubang itu.

“Tadi malam Kim sempat jalan sendiri. Tapi lalu tidur lagi, sampai meninggal.”

“Apakah infusnya dilanjutkan?”

“Tidak … pertimbangan saya … kalau diberi infus lagi maka kandung-kemihnya akan penuh air seni hasil metabolisme.”

Dalam pikiran saya … bagaimana Kim bisa bertahan kalau dia tidak mendapat asupan makanan. Tapi saya terlalu sedih untuk bisa berdebat.

Kim kini sudah kaku. Ditidurkan di tanah pada sisi kanannya. Mata yang kanan tertutup, yang kiri terbuka. Ada cairan keluar dari mulutnya. Pada dada kanannya, sebelah bawah, benjolan itu tampak lagi.

“Maafkan saya Kim … kalau saja saya ada disampingmu tadi malam tentu saya akan usap-usap benjolan itu sampai hilang, seperti kemarin,” saya berbisik.

Tanah pertama saya taburkan di atas mukanya. Saya tak ingin dia menatap saya selagi saya mengurug tubuhnya dengan tanah. Saya berbisik sambil bekerja dengan cangkul: “Saya beri kamu tanah paling subur Kim. Akan saya tanam bunga yang bagus di atas kuburanmu. Saya tidak ingin mengingat mukamu yang barusan. Saya ingin mengingat wajahmu yang kemarin, sebelum kamu tercebur di got. Dan juga wajah-wajahmu yang lain yang kamu tampakkan pada saya selama empat bulan kamu tinggal di rumah saya.”

<>

Empat bulan yang lalu Mingkem melahirkan tiga kucing kecil yang lucu. Mingkem sendiri entah kucing punya siapa, tapi dia sering datang ke rumah. Pembantu saya memberi nama dia Mingkem. Mingkem memilih sendiri tempat untuk melahirkan, yaitu di bawah tangga, di antara tumpukan koran lama. Saya beri nama anaknya Kim, Kum dan Kam. Seperti yang dikatakan orang, induk dan anak kucing itu berpindah tempat beberapa kali. Kadang-kadang Mingkem sendiri yang memilih tempat baru dan memindahkan anak-anaknya. Kadang-kadang saya yang memilihkan untuk mereka.

<>

Selamat jalan Kim. Mungkin nanti kita bertemu lagi. Seharusnya kita bisa bersama-sama lebih lama. Saya akan jaga dua saudaramu, Kum dan Kam.

Rabu, 05 September 2007

TOP OF MIND

JUDUL : TOP OF MIND
LOKASI : INT Ruangan wawancara tempat dilakukan riset konsumen
DURASI : 7 menit
CAST : VIRNIE (Periset 1), MIEKE (Periset 2), TIEKE (Pencari Responden dan Periset 3), AMING (Responden 1), TORA (Responden 2), INDRA (Responden 3), SOGI (Responden 4), RONY (Responden 5).

----------------------------------------------------------------------------

FADE IN

INT RUANGAN WAWANCARA

PERISET 1 dan PERISET 2 sedang duduk di kursi menghadap meja yang sama.
Inframe : PENCARI RESPONDEN berjalan bersama RESPONDEN 1. Lalu berhenti di tengah.

PENCARI RESPONDEN
Selamat sore Bapak. Kami sedang mengadakan riset konsumen. Bersediakah Bapak kami wawancara ... sebentaaaar saja. Nanti kami beri hadiah.
(Gayanya manja dan membujuk)

RESPONDEN 1
Hadiahnya apa ?

PENCARI RESPONDEN
Sesuatu yang pasti Bapak perlukan. Saya lihat dari muka Bapak, Bapak ini suka terlambat bangun tidur. Untuk itu nanti Bapak akan kami beri hadiah sebuah jam dinding. Bagimana ?

RESPONDEN 1
Ooooh ... saya suka sekali jam dinding. Ayo ... dimana wawancaranya?

PENCARI RESPONDEN
Di sini Pak. Silahkan duduk.
(Mempersilahkan duduk di depan PERISET 1 dan 2)

PERISET 1
(Setelah Responden 1 duduk)
Bapak ... kami ingin mengetahui urutan posisi merek produk-produk yang dijual di masyarakat, menurut persepsi konsumen. Kami akan menyebut jenis produk ... nanti Bapak sebutkan merek dari jenis produk tersebut ... yang pertama kali muncul di pikiran Bapak.

RESPONDEN 1
Aaah ... itu mah gampang. Sok ... ajaaah

PERISET 2
Sabun mandi ...

RESPONDEN 1
Daun lamtoro ...

PERISET 1
Lho kok daun lamtoro sih ?

RESPONDEN 1
Saya memang biasa mandi dengan daun lamtoro sebagai sabunnya. Kalau dalam bahasa Sunda namanya “dikasay”.

PERISET 2
Pasta gigi ...

RESPONDEN 1
Daun alang-alang ...

PERISET 1
Lho kok daun alang-alang ...

RESPONDEN 1
Sehari-sehari memang saya menyikat gigi dengan daun alang-alang. Lihat saja gigi saya ... putih dan bersih kan.
(Menyeringai)

PERISET 2
Shampoo ...

RESPONDEN 1
Daun kelapa ...

PERISET 2
Pemutih kulit

RESPONDEN 1
Abu gosok ...

PERISET 2
Obat jerawat ...

RESPONDEN 1
Daun sirih ...

PERISET 1
Stop ... stop ... kenapa jadi ngaco begini sih?
Memangnya jerawat pake daun sirih bisa sembuh ?

RESPONDEN 1
Ya enggak sih. Tapi kan tadi disitu nanyanya apa yang pertama kali muncul di pikiran saya. Ya begitulah ...

PERISET 1
Baik ... pak. Ini jam dindingnya. Terima kasih atas kerja samanya.

RESPONDEN 1
Asyiiik ...
(Sambil berdiri dari kursi)

RESPONDEN 1 outframe
PENCARI RESPONDEN dan RESPONDEN 2 inframe

PENCARI RESPONDEN
Mieke ... ini ada responden baru lagi.
Silahkan duduk Pak.
(Mempersilahkan RESPONDEN 2 masuk dan duduk)

PERISET 1
(Setelah RESPONDEN 2 duduk)
Bapak ... kami ingin mengetahui kesetiaan Bapak pada merek produk. Kami mohon Bapak menjawab pertanyaan kami secara jujur.

RESPONDEN 2
Silahkan ... monggo ... siapa takut ...kebetulan nama saya memang Jujur P.

PERISET 2
Apa merek pasta gigi yang Bapak pakai tiga bulan yang lalu ?

RESPONDEN 2
Sogident.

PERISET 2
Memangnya ada merek seperti itu ? Rasanya baru dengar. Whatever ...
Apa merek pasta gigi yang sekarang Bapak pakai ?

RESPONDEN 2
Sogident juga ...

PERISET 1
Wah Bapak ini termasuk konsumen setia ...

RESPONDEN 2
Gak gitu-gitu amat sih.
Teman kost saya namanya Sogi ... Selama ini ‘kan saya nebeng pakai pasta gigi dia terus. Sogident artinya pasta gigi punya si Sogi.

PERISET 1
Apakah Bapak akan menyarankan orang lain untuk menggunakan juga pasta gigi merek Sogident ?

RESPONDEN 2
Yaaa ... gak mungkin lah yauw.
Kasian si Sogi kalau semua orang pakai pasta gigi punya dia. Habis dong. Nanti saya gak kebagian ... gimana ?

PERISET 2
Sekarang kita pindah ke produk lain ... yaitu sabun mandi.
Apa merek sabun mandi yang Bapak pakai tiga bulan yang lalu ?

RESPONDEN 2
Sogisoap

PERISET 2
Pasti itu merek sabun yang dipakai oleh Sogi teman Bapak itu.
Dan ... pasti itu juga merek sabun yang Bapak pakai sekarang .. kan ?

RESPONDEN 2
Salaaah ... setelah mandi tiga bulan yang lalu ... saya belum mandi lagi. Saya belum bisa menentukan merek apa yang akan saya pakai nanti. Mungkin saja saya akan pakai sabun kamu .... Bolehkah saya mandi di rumahmu ?

PERISET 1
Stop ... stop ... stop ... saat ini kamilah yang bertanya. Sedangkan Bapak hanya menjawab. Tapi saya kira sudah cukup informasi dari Bapak. Kami ucapkan terima kasih atas kerjasamanya ... ini jam dinding sebagai kenang-kenangan.

RESPONDEN 2 outframe
RESPONDEN 3 inframe

PENCARI RESPONDEN
Mieke ... ini ada responden lagi.
Silahkan duduk disini Pak.
(Mempersilahkan RESPONDEN 3 untuk duduk)

PERISET 1
Bapak ... klien kami ingin mengetahui pendapat konsumen mengenai pelayanan bank-bank yang ada di Indonesia, yang terjadi selama ini.
Kami minta bantuan Bapak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

RESPONDEN 3
Kebetulan ... saya lagi banyak komplen soal bank.

PERISET 2
Komplennya apa Pak ?

RESPONDEN 3
Minggu lalu saya datang ke sebuah bank ... eh semuanya pada diam .. tidak ada yang mau melayani saya.

PERISET 2
Kenapa gak langsung komplen saja ke customer service ?

RESPONDEN 3
Sudah ... eh malah dia mengeluarkan kertas seperti ini ..
(Mengeluarkan ketas bertulisan : KAMI MELAYANI DENGAN HATI)

PERISET 2
Pantesan semua pada diam ... soalnya ... cuma hati mereka yang bekerja.
Terus ... apa lagi komplennya Pak ?

RESPONDEN 3
Bank itu kan seharusnya membuat saya jadi main kaya ... faktanya malah membuat saya bangkrut.

PERISET 2
Bagaimana caranya sampai terjadi begitu ?

RESPONDEN 3
Kesempatan saya untuk datang ke bank kan cuma dari jam 12 – 13, yaitu waktu istirahat kantor saya. Eh ... ternyata pada waktu yang sama ... karyawan bank pun lagi istirahat. Jadi saya harus nunggu sampai mereka selesai istirahat. Dengan demikian saya jadi terlambat kembali ke kantor. Boss saya jadi marah-marah.

PERISET 2
Kalau begitu ... pindah bank saja Pak.

RESPONDEN 3
Memang akhirnya saya pindah bank. Bank yang satu lagi karyawannya memang tidak istirahat pada jam 12 – 13. Tapi antrinya lama sekali ... minta ampun. Saya dimarahin lagi oleh Boss karena terlambat lagi. Saya dua kali membuat perusahaan gagal ikut tender. Saya dipecat ... sekarang saya jadi gelandangan tanpa pekerjaan ... tanpa penghasilan... hik ... hik ... hik
(Menangis)

PERISET 1
Cup ... cup ... sudah ... sudah ... jangan nangis ... ini jam dinding untuk hadiah
(Memberikan jam dinding)

RESPONDEN 3 outframe
PENCARI RESPONDEN dan RESPONDEN 4 inframe

PENCARI RESPONDEN
Mieke ... ini ada responden baru.
Silahkan duduk disini Pak.
(Mempersilahkan RESPONDEN 4 untuk duduk, lalu outframe)

PERISET 1
Bapak ... klien kami ingin mengetahui mengenai tingkat kepuasan konsumen mengenai Departement Store Dasamuka pada khususnya dan Departement Store pada uumnya. Untuk itu, kami minta bantuan Bapak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami

RESPONDEN 4
Setahu saya ... yang namanya Departement Store itu bukan Dasamuka ... tapi ... mh mh mh mh ...
(Tidak mau mengatakan namanya)

PERISET 2
Dasamuka itu kan lawannya ... mh mh mh mh
Jadi Bapak bersedia ‘kan kalau kami wawancara ?

RESPONDEN 4
Boleh saja ... silahkan.
(Tapi mukanya jadi muram)

PERISET 2
Kapan Bapak terakhir mengujungi Departement Store ?

RESPONDEN 4
Minggu lalu ...
(Wajahnya makin muram)

PERISET 2
Departement Store yang mana ?

RESPONDEN 4
Departement Store itu tadi ... mh mh mh mh ..hik... hik ... hik
(Menangis)

PERISET 2
Bapak mendapat ketidak puasan di sana ?

RESPONDEN 4
Saya sangat kecewa disana.

PERISET 2
Apa yang membuat Bapak kecewa disana ? Tempat parkir susah ?

RESPONDEN 4
Bukan ...

PERISET 2
Tempatnya kotor ?

RESPONDEN 4
Juga bukan ...

PERISET 2
Satpamnya tidak ramah mungkin ?

RESPONDEN 4
Bukan pula ....

PERISET 2
Jadi apa ?

RESPONDEN 4
Saya ... saya ... diputusin sama pacar saya disana ...
(Nangisnya makin heboh)

PERISET 1
Mieke ... kamu yang membuat dia menangis ... jadi kamu yang bertanggung jawab . Sekarang antarkan dia keluar ... dan bujuk dia sampai nangisnya berhenti.

RESPONDEN 4 menyandarkan kepalanya ke bahu PERISET 2 sambil menangis. PERISET 2 membujuk-bujuk.
PERISET 2 dan RESPONDEN 4 outframe
PENCARI RESPONDEN dan RESPONDEN 5 inframe

PENCARI RESPONDEN
Mieke ... ini ada responden baru. Lho Virnie ... Mieke kemana ?
Silahkan duduk disini Pak.
(Mempersilahkan RESPONDEN 5 untuk duduk)

PERISET 1
Mieke sedang keluar mengantar responden yang tadi. Kamu gantikan dia sekarang.
(PENCARI RESPONDEN duduk di kursi bekas PERISET 2)

PERISET 1
Bapak ... klien kami sebentar lagi akan meluncurkan produk baru berupa mi goreng. Kami ditugaskan untuk menjajagi respon calon konsumen. Kami minta bantuan Bapak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

RESPONDEN 5
Aku sih ... oke-oke saja

PERISET 1
Di depan Bapak ada tiga piring mi goreng. Bapak akan kami minta untuk mencicipinya, lalu kami akan minta komentar Bapak.

RESPONDEN 5
Wah kebetulan ... saya sedang lapar ...

PERISET 1
Saya katakan sekali lagi ... Bapak hanya mencicipi. Oke ?

PERISET 3
Menurut Bapak ... mana dari tiga piring mi goreng itu ... yang paling terasa bumbunya ?

RESPONDEN 5
(Mengambil mie dengan garpu. Menyuapkannya ke mulut. Pas mau memasukan mi ke mulutnya ... )

PERISET 3
Stop ...
Mi yang mana yang paling terasa bumbunya ?

RESPONDEN 5
Tapi saya belum ...

PERISET 3
Oke ... jadi mi dari Piring 2 yang paling terasa bumbunya.
(Menulis sesuatu di atas kertas)
Sekarang ... menurut Bapak ... mana dari tiga mi goreng itu ... yang paling enak mi-nya?

RESPONDEN 5
(Mengambil mie dengan garpu. Menyuapkannya ke mulut. Pas mau memasukan mi ke mulutnya ... )

PERISET 3
Stop ...
Mi yang mana yang paling enak ?

RESPONDEN 5
Tapi saya belum ...

PERISET 3
Oke ... jadi mi dari Piring 2 yang paling enak mi-nya.
(Menulis sesuatu di atas kertas)
Sekarang ... menurut Bapak ... mana dari tiga mi goreng itu ... yang paling menarik warna-nya ?

RESPONDEN 5
(Mengambil mie dengan garpu. Menyuapkannya ke mulut. Pas mau memasukan mi ke mulutnya ... )

PERISET 3
Stop ...
Saya bertanya mengenai warnanya ... jadi cukup dilihat saja ... tidak usah dicicipi. Tidak usah dimakan. Mi yang mana yang paling menarik warnanya?

RESPONDEN 5
Tapi ...

PERISET 3
Oke ... jadi mi dari Piring 2 yang paling menarik warnanya.
(Menulis sesuatu di atas kertas)
Sekarang ... menurut Bapak ... mana dari tiga mi goreng itu ... yang paling renyah ?

RESPONDEN 5
(Mengambil mie dengan garpu. Menyuapkannya ke mulut. Pas mau memasukan mi ke mulutnya ... )

PERISET 3
Stop ...
Mi yang mana yang paling renyah ?

RESPONDEN 5
Tapi saya belum ...
(Muka kecewa berat ... marah ...)

PERISET 3
Oke ... jadi mi dari Piring 2 yang paling renyah mi-nya.
(Menulis sesuatu di atas kertas)
Oke ... dengan demikian riset dianggap selesai. Kami ucapkan terima kasih atas ....

RESPONDEN 5
(Marah dan berteriak )
Waaaaaaaa .... aku tak terima. Aku harus makan semua mi iniiiii ...
(Secara serabutan tiga piring mi itu dimakan dengan lahap. Sementara itu PERISET 1, PERISET 3 menjauh karena takut)

FADE OUT

PROYEK CANDI

JUDUL : PROYEK CANDI
LOKASI : 1. Keraton dan
2. Lokasi proyek candi
DURASI : 6 menit
CAST : RONY (raja), TIEKE (Permaisuri), RONALD (GUN-GUN IRAMA), TORA (pemahat), VIRNIE (Model 1), MIEKE (Model 2), SOGI (Pematung), AMING (Patung Raja).

----------------------------------------------------------------------------

FADE IN

INT KERATON

RAJA dan PERMAISURI sedang bercengkrama.

RAJA
Dinda ... Kakanda ini ingin meninggalkan sesuatu yang besar pada kerajaan ini. Sehingga kita akan dikenang lama sekali oleh rakyat.

PERMAISURI
Tidak usah khawatir Kakanda ... kuburan kita berdua pasti ukurannya king size. Lihat saja ukuran tubuh kita.

RAJA
Yah ... kalau kuburan kita jangan ditanya lagi. Pasti besarlah.
Yang Kakanda maksudkan adalah sebuah candi yang besar dan monumental.

PERMAISURI
Kebetulan kalau begitu. Tadi pagi Dinda belanja di toko kain milik orang India itu. Disitu ada keponakannya baru datang dari India.
Dia bilang sih dia seorang arsitek yang berpengalaman. Coba saja kita undang ke keraton siapa tahu cocok seleranya dengan Kakanda.

RAJA
Kalau begitu silahkan Dinda panggil orang India itu.

PERMAISURI
Salam ka mahine ....
(Beat)

GUN-GUN IRAMA inframe. Langsung melanjutkan lagu yang dinyanyikan oleh Permaisuri.

GUN-GUN IRAMA
Salam e kare ho ...
(Beat)

RAJA
Coba sekarang saya test. Nyanyikan sebuah lagu dangdut yang ada kata India dalam syairnya.

GUN-GUN IRAMA
Terajana ... terajana ... ini lagunya ... lagu India ...

RAJA
Sudah ... sudah ... cukup ... saya percaya.
Baik ... selamat datang di keraton saya.
Saya kira ... saya tidak perlu memperkenalkan diri saya sendiri lagi, karena sudah jelas saya adalah raja. Ini permaisuri saya.
Sekarang sebutkan siapa namamu.

GUN-GUN IRAMA
Perkenalkan nama saya Gun-Gun Irama.

RAJA
Namamu mirip dengan arsitek Candi Borobudur. ... Guna Darma.
Apakah ada hubungan keluarga?


GUN-GUN IRAMA
Tidak ada hubungan keluarga, tapi kami tetangga.
Dia lahir dua hari setelah saya. Orang tuanya kurang kreatif, jadi namanya sedikit menyontek.
Kalau saya namanya Gun-Gun Irama ... dia namanya Guna Darma

RAJA
Memang mirip.

GUN-GUN IRAMA
Tapi saya lebih terkenal sebenarnya. Kalau Baginda datang ke kampung saya, mencari rumah saya. Tanyakan saja rumahnya Gun-gun Irama, semua orang tahu. Tapi tidak ada seorangpun yang tahu rumahnya Guna Darma.

PERMAISURI
Menurut pamanmu yang pemilik toko kain itu, kamu adalah arsitek tekenal. Sekarang coba saya lihat porto-folio kamu.
Proyek-proyek candi apa saja yang sudah kamu kerjakan ?

GUN-GUN IRAMA
(menyerahkan map berisi foto-foto hasil rancangan)
Silahkan Baginda periksa sendiri, pilih mana yang suka. Atau kita bikin disain baru sama sekali.
Saya sudah membangun puluhan candi, di berbagai negara. Klien saya selalu raja, karena memang hasil rancangan saya biaya konstruksinya mahal sekali. Hanya raja yang mampu membayarnya.

RAJA
(Memperlihatkan gambar piramid)
Ini candi dimana, kok bentuknya sederhana sekali.

GUN-GUN IRAMA
Itu adalah pesanan Firaun ... raja Mesir.
Dia minta bentuk luar yang minimalis, supaya cepat selesai.

PERMAISURI
Kenapa dia ingin selesai buru-buru ?

GUN-GUN IRAMA
Kayaknya dia punya firasat bahwa umurnya tidak akan panjang.
Raja Firaun bermaksud mengunakan candi itu sekaligus sebagai kuburannya. Untung saya sudah berjaga-jaga, minta fee-nya dibayar penuh di muka.

RAJA :
(Memperlihatkan gambar Tembok China)
Kalau yang ini mana candinya.
Kok hanya bentengnya saja yang ada di gambar.

GUN-GUN IRAMA
Ini adalah pesanan Kaisar Cina.
Proyeknya besar sekali, jadi dibagi dua. Saya kebagian merancang dan membangun bentengnya. Ada satu lagi arsitek yang merancang dan membangun candinya, tapi arsitek itu curang ... dia kabur setelah menerima uang muka 20% dari nilai konstruksi.
Sejak itulah klien selalu minta jaminan uang muka yang berbentuk garansi bank.

PERMAISURI
(Memperlihatkan gambar Taj Mahal)
Yang ini pasti harganya mahal. Bentuknya indah, detilnya rumit. Bahannya juga pasti bermutu tinggi.

GUN-GUN IRAMA
Sebenarnya tidak terlalu mahal. Tapi besar sekali mark-up dalam proyek itu.
Panitia tender minta 20%. Pengawas minta 30%. Supplier yang ternyata adiknya Perdana Mentri, menaikan 30%. Pemaisuri juga minta 20%. Total kenaikan 100%. Saya bebankan pada tagihan kepada raja.
Raja marah-marah pada saya, kalau saya tidak cepat kabur pasti kepala saya sudah dipenggal.
Rakyat disana jadi heboh. kasus ini menjadi pembicaraan selama puluhan tahun. Setiap hari orang bicara mahal ... mahal ... mahal.
Sehingga akhirnya candi itu disebut Taj Mahal.
Padahal tadinya mau dikasih nama Taj saja.

RAJA
Baiklah ... sekarang kita bicarakan proyek saya.
Ukurannya ... panjang seratus depa. Lebar seratus depa ... tinggi sepuluh depa.
Depa saya ... buka depa bayi.
Bahannya dari batu kali ... supaya tahan ratusan tahun

GUN-GUN IRAMA
(Sibuk mencatat)

RAJA
Di setiap dinding harus ada relief, yang menggambarkan peraturan saya mengenai bagaimana rakyat saya harus bertingkah laku.
Misalnya pakaian harus sopan. Jadi nanti harus divisualisasikan contoh orang yang berpakaian sopan, dan orang yang berpakaian tidak sopan alias tidak memakai pakaian sama sekali.

GUN-GUN IRAMA
Jadi nanti harus ada relief yang menggambarkan orang yang tidak memakai pakaian ?

RAJA
Betul ! Dan diberi petunjuk dengan tanda panah.... zone mana saja yang harus ditutupi pakaian.
Rakyat saya tidak boleh mempertunjukkan zone tersebut.

RAJA
Juga harus divisualisasikan peraturan saya mengenai gerak tubuh yang sopan.
Harus digambarkan bagaimana gerakan yang sopan, dan bagaimana gerakan yang tidak sopan.

GUN-GUN IRAMA
Gerakan yang tidak sopan itu bagaimana Baginda ?

RAJA
Gerakan yang tidak sopan adalah gerakan yang menyerupai
gerakan orang yang sedang melakukan hubungan suami isteri.

GUN-GUN IRAMA
Jadi harus ada penggambaran orang sedang berhubungan ?

RAJA
Betul !

GUN-GUN IRAMA
Wah itu agak sulit ... karena saya belum mempunyai isteri.
Jadi terus terang saya belum tahu seperti apa.

RAJA
Itu gampang diatur.
Kamu akan saya kasih wanita yang cantik untuk jadi isteri kamu.
Jadi kamu nanti akan tahu bagaimana caranya.
Atau ... kamu juga boleh lihat kala saya sedang berhubungan dengan Permaisuri.

GUN-GUN IRAMA
Kalau Baginda dan Permaisuri yang menjadi model, nanti reliefnya perlu frame yang besar.

RAJA
Tidak jadi soal. Kita perbesar saja candinya. Biaya tidak jadi masalah.

GUN-GUN IRAMA
Apakah tidak sebaiknya peraturan itu ditulis saja, jangan divisualisasikan ? Soalnya nanti bisa dikategorikan pornografi dan pornoaksi.

RAJA
Orang yang bisa baca tulis di kerajaan ini hanya beberapa orang. Jadi ... kita tidak bisa menuliskan peraturan, kita harus menggambarkan peraturan.
Soal kategorisasi adalah urusan pengamat, mereka adalah orang yang sukanya mengamati dan memberi komentar. Silahkan mereka melakukan kategorisasi apa saja.
Tapi peraturan datangnya harus dari raja ... yaitu saya sendiri.

GUN-GUN IRAMA
Terserah Baginda saja deh ...

RAJA
Lagi pula kalau peraturannya harus tertulis, maka proyeknya adalah proyek penulisan. Bukan proyek pembangunan. Artinya kamu tidak akan saya pakai, karena kamu adalah arsitek ... bukan penulis

GUN-GUN IRAMA
(Mengangguk-angguk)
Iya ... ya.


RAJA
Sekarang kita teruskan ...
Di bagian atas candi ... di tengah-tengah dipasang patung diri saya ... ukuran penuh. Mukanya ada empat. Tangannya ada delapan.

GUN-GUN IRAMA
Baiklah Baginda ... sekarang konsepnya sudah cukup jelas.
Sekarang saya minta disediakan 100 pemahat tingkat mahir, 500 pemotong batu, 900 kuli angkat, 200 mandor dan 300 juru masak.
Total 2000 orang.

PERMAISURI
Wah itu banyak sekali ... mana mungkin kami menyediakan 2000 orang. Perlu kamu ketahui, penduduk kerajaan ini hanya lima ribu orang.

RAJA
Empat ribu di antaranya adalah petani.

GUN-GUN IRAMA
Yang seribu sisanya profesinya apa ?

RAJA
Mereka kebanyakan adalah keluarga kerajaan.
Di antara mereka ada yang saudagar, guru, ponggawa, pamong praja. Tapi ada juga yang jadi calo proyek dan pengejar rente ekonomi.

GUN-GUN IRAMA
Mereka tentu tidak akan dipilih untuk bekerja di candi.


RAJA
Tentu tidak ... mereka tidak akan mau tangannya kotor.

GUN-GUN IRAMA
Terserah Baginda ...
Minimal harus tersedia 1500 orang. Kalau tidak tersedia sebanyak itu .. saya tidak bertanggung jawab kalau proyek candi menjadi terbengkalai.
Misalnya Baginda keburu meninggal ... apakah Baginda yakin kalau pengganti Baginda akan meneruskannya?

RAJA
Baiklah ... kamu akan saya beri 1500 petani. Kamu harus melatih mereka supaya bisa bekerja di proyek candi.

GUN-GUN IRAMA
Dan harus ada yang melatih 2500 petani yang masih bertani, agar produksinya meningkat dua kali lipat. Kalau tidak ... sebagian dari kita akan kelaparan

RAJA
Biarlah itu menjadi urusan saya.
Saya akan bikin proyek lain.


EXT LOKASI PROYEK CANDI.
GUN-GUN IRAMA sedang melatih PEMAHAT dan PEMATUNG.
Di situ sudah ada batu besar yang akan dibuat patung, berisi AMING.


GUN-GUN IRAMA
Kalian sekarang saya latih, supaya kamu nanti bisa jadi melatih yang lain. Pernah dengar istilah training for trainer ?

PEMAHAT dan PEMATUNG
Pernah

GUN-GUN IRAMA
Kapan dan dimana ?
Kamu ‘kan cuma petani .

PEMAHAT dan PEMATUNG
Barusan

GUN-GUN IRAMA
Tidak lucu tau ...
Oke ... sekarang kita lakukan pemanasan.
Dalam pemanasan ... kita melakukan gerakan-gerakan yang nanti akan kalian lakukan berulang-ulang sebagai pemahat atau pematung.
Ikuti gerakan saya ... satu ... dua ... tiga ... empat ...

PEMAHAT dan PEMATUNG
(Melakukan gerakan yang mirip orang mencangkul)

GUN-GUN IRAMA
Stop ... stop ... itu mah gerakan mencangkul atuh.
Kamu harus meninggalkan dan melupakan profesi petani yang lama. Proyek candi ini akan lama karena ukurannya besar dan bahannya adalah batu kali yang sangat keras. Jadi ... sampai akhir hayat kalian ... tidak ada kemungkinan lagi kalian akan kembali bertani.
Mari kita ulangi pemanasannya ... satu ... dua ... tiga ... empat.

PEMAHAT dan PEMATUNG
(Kali ini gerakannya seperti sedang memahat, yaitu memukul pahat dengan palu)

GUN-GUN IRAMA
Oke sekarang kalian bisa bekerja. Batu sebagai bahan baku untuk kalian ... sudah saya sediakan. Gambar rancangan saya ada pada papan itu. Orang-orang untuk menjadi model juga sudah saya sediakan. Selamat bekerja.

MODEL 1 dan MODEL 2 inframe
GUN-GUN IRAMA dan PEMATUNG outframe

PEMAHAT
(Memahat pada lempengan batu, dengan dua model di hadapannya)
Saya harus memahat gerakan yang tidak sopan.
Please ... berposelah seperti itu.
Dan, kalian jangan bergerak terus ... saya jadi sulit memahatnya

MODEL 1 dan MODEL 2
(Melihat pada relief hasil pahatan)
Ah ... nggak mirip ... la yauw

PEMAHAT
Itu karena kamu berposenya tidak seperti yang diminta GUN-GUN dalam rancangan ini. Ayo kita ulangi.
(PEMAHAT memahat lagi beberapa saati)

MODEL 1 dan MODEL 2
(Melihat pada relief)
Ah ... masih nggak mirip juga.

PEMAHAT
Coba kamu berbuat sesuatu yang bisa membuat saya terinspirasi.

MODEL 1 dan MODEL 2
(Mendesah-desah, mengerang-erang, mengaduh-aduh
dan menggeliat-geliat)

PEMAHAT
Nah ini baru inspirasi.
(Melihat ke penonton)
Saya ingin kasih inspirasi sama kamu-kamu kamu boleh namakan yang itu tadi porno swara.
(Melihat pada model-model)
Tapi saya jadi pingin pulang nih. Hai model ... kita pulang dulu yuk.

PEMAHAT, MODEL 1 dan MODEL 2 outframe
RAJA dan PEMATUNG inframe

PEMATUNG
(Melakukan gerakan memahat pada batu)
Baginda ... saya mohon untuk tidak bergerak. Saya ingin patung ini sempurna ... kala bisa lebih gagah dari keadaan sebenarnya.

RAJA
(Mula-mula diam dan berpose. Lama-lama, jadi bergerak ke kiri dan ke kanan karena sedang bicara di handphone-nya)

PEMATUNG
Baginda ... please saya mohon dengan sangat ... jangan bergerak. Saya barusan sudah salah memahat ... jangan biarkan saya bikin salah lagi.

RAJA
Saya adalah raja ... jadi mau-mau saya dong ... mau gerak atau mau diam.
(Tetap bergerak ke kiri dan ke kanan)

PEMATUNG
Baginda ... kesalahan yang saya buat makin banyak nih. Salah pahat pada batu tidak bisa diperbaiki. Kita tidak punya lem batu.
Jangan salahkan saya kalau patung ini tidak mirip.

RAJA
(Gerakannya makin heboh)

PEMATUNG
Saya tidak bertanggung jawab lagi nih ... lihat hasil pekerjaan saya ...
(Kain yang membungkus Aming dibuka, terlihatlah Aming dalam pose Raja sebelum bicara di handphone)

RAJA
Pematung ... kepalamu akan saya pancung.
Masa wajah dan badan saya jadi jelek begini.
(Raja mengejar Pemahat)

PATUNG RAJA
Tunggu ....

PEMATUNG, RAJA dan PATUNG RAJA outframe

Minggu, 02 September 2007

MEREDUPNYA PELITA INSPIRASI SAHRAP

Sahrap sangat yakin bahwa otaknya bekerja seperti pemancar radio sedangkan otak orang lain bekerja sebagai pesawat penerima. Gagasan yang dia pikirkan akan terpancar keluar dan ditangkap oleh otak orang-orang sebagai inspirasi, untuk dilaksankan atau dicarikan rinciannya secara lebih ilmiah. Oleh karena itulah Sahrap giat memikirkan gagasan baru yang baik-baik, dengan harapan dunia di sekelilingnya akan berubah menjadi baik. Sangat dihindari oleh Sahrap, berpikir tentang gagasan jahat yang mencelakakan orang lain. Sahrap sangat khawatir, kalau sampai dia membuat gagasan jahat, gagasan ini akan menjadi inspirasi orang-orang untuk berbuat jahat.
Mulanya Sahrap tidak sadar bahwa dia punya kekuatan pemancaran seperti itu. Mula-mulanya dia menyangka kejadian-kejadian berikut ini hanya kebetulan saja terjadi. Pernah dia menuangkan gagasannya dalam beberapa tulisan pendek yang dia kirim ke maling list yang dia ikuti. Biasanya, tidak lama setelah itu, dalam surat kabar muncul berita tentang kegiatan yang dapat dikatakan pelaksanaan dari gagasan Sahrap. Misalnya, Sahrap pernah menuliskan gagasannya tentang gagasan tour jalan kaki menyusuri bangunan tua di kota B. Tak lama kemudian pemerintah daerah kota J meluncurkan program jalan-jalan menyusuri kota tua. Sahrap bisa menjamin bahwa gagasan dia adalah orisinil dan mucul dari dia sendiri, sama sekali bukan pengembangan dari gagasan orang lain.
Pernah juga Sahrap menulis gagasan mengenai diadakannya kegiatan joy flight dengan helikopter untuk mencari dana untuk kegiatan sosial. Selang sebulan setelah itu, Sahrap melihat balon raksasa melayang-layang di langit bertuliskan nama produk rokok yang baru diluncurkan. Pada balon tersebut dipasangi gondola yang bisa dimuati orang. Dengan membayar sejumlah besar uang, orang dapat terbang melihat kota J dari angkasa, dengan naik balon tersebut. Oleh pabrik rokok tersebut, uang yang diterima disumbangkan pada PMI. Semua sama-sama senang.
Sahrap pernah mengirim satu artikel ke surat kabar. Artikelnya membahas bencana lumpur panas kota S dari sudut eksternalitas sebagaimana dikenal dalam ilmu ekonomi. Artikel tersebut ditolak oleh surat kabar, tapi beberapa hari kemudian di surat kabar yang sama, muncul artikel mengenai eksternalitas yang ditulis oleh penulis yang mempunyai beberapa gelar profesi ditambah dengan kedudukan sebagai ketua asosiasi profesi. Sahrap mulanya merasa berang, tapi keinginannya untuk mengirim protes lewat surat pembaca diurungkan. Siapa pula yang akan percaya bahwa profesor doktor itu telah membajak gagasan Sahrap yang bukan apa-apa. Paling jauh orang-orang akan percaya bahwa ini hanya koinsidensi.
Begitulah mulanya. Sahrap menyangka orang-orang terinspirasi oleh tulisannya yang dia kirim ke maling list atau surat kabar. Belakangan terbukti bahwa penularan gagasan tidak hanya terjadi lewat maling list. Beberapa tulisan Sahrap, tidak dia kirim ke maling list, melainkan dia muat di blog pribadi yang terbuka untuk publik, tapi toh bisa menular juga gagasannya.
Di blog ini biasanya Sahrap menuliskan hasil perenungannya mengenai kejadian-kejadian aktual. Suatu kali dia membuat tulisan yang mengomentari mengenai peraturan pemerintah daerah kota J yang melarang warga memelihara unggas di wilayahnya. Sahrap menggambarkan peristiwa ini sebagai pakta non kohabitasi antara manusia dengan unggas. Selama ini kata “pakta” di hubungkan dengan kata “kohabitasi”. Dalam kasus unggas ini Sahrap membuat kreasi rangkaian-kata baru, yaitu frase “pakta non kohabitasi”. Dua hari setelah dia memuat perenungan ini dalam blog, muncul tulisan oleh seorang pengamat politik yang juga memakai frase “pakta non kohabitasi”.
Kali ini Sahrap mengambil sikap-hati yang lain dalam menerima hal seperti ini. Dia masih yakin bahwa pengamat politik tersebut terinspirasi oleh tulisannya. Bagaimana mungkin ada dua orang yang berjauhan tempatnya, tidak pernah ketemu, secara hampir bersamaan menemukan kombinasi tiga kata tersebut : “pakta”, “non” dan “kohabitasi”. Karena tulisan Sahrap dipublikasikan lebih dulu lewat blog, maka dapat dikatakan si pengamat politik itulah yang terinspirasi. Tinggal dicari buktinya bahwa si pengamat politik itu pernah singgah di blog milik Sahrap.
Sikap hati Sahrap sekarang adalah bahwa biarlah orang terinspirasi oleh tulisannya. Sahrap mengambil posisi sebagai pabrik gagasan. Biarlah orang-orang melanjutkan gagasannya itu dalam bentuk tulisan lain yang lebih ilmiah, atau dalam bentuk tindakan-tindakan yang merupakan penerapan dari gagasan Sahrap. Orang bijak bilang bahwa perbuatan baik dapat dilakukan dengan tangan, dengan ucapan, atau paling sedikit dengan doa saja. Sahrap ingin menambahkan bahwa menyusun gagasan yang baik pun sudah merupakan perbuatan baik. Gagasan yang baik adalah doa yang dirinci secara sistimatis, siap untuk disampaikan pada Yang Maha Kuasa agar mendapat persetujuannya, dan masih memerlukan langkah-langkah pelaksanaan agar dapat terwujud.
Peristiwa-peristiwa di atas terus berkembang dan merubah pendapat Sahrap tentang bagaimana caranya gagasan bisa menular. Ada satu kejadian yang memberi keyakinan pada Sahrap bahwa penularan gagasan itu bukan hanya lewat tulisan yang sudah dia publikasikan. Apapun yang masih ada dalam pikiran Sahrap, sudah bisa terpancar. Benar … hanya lewat pikiran. Sahrap yakin bahwa hampir satu waktu dengan saat Sahrap berpikir, dan atau saat Sahrap menuliskannya di laptop, maka sudah ada orang di bagian lain di dunia ini sudah terinspirasi oleh gagasan Sahrap. Tidak usah lewat tulisan. Ini terjadi setelah Sahrap terpaksa memutuskan langganan internet karena alasan keuangan. Jadi tak mungkin lagi ada orang menyadap laptop Sahrap lewat sambungan internet. Oleh karena itulah Sahrap menjadi yakin bahwa gagasan dapat memancar lewat otaknya seperti siaran radio memancar dari studio. Gelombang pancaran tersebut akan mencari otak-otak yang sedang diset pada panjang gelombang yang sama. Lalu akan terjadilah penularan gagasan.
Kejadiannya begini. Sahrap merasa sangat terganggu dengan cara pengendara motor menjalankan motornya. Sahrap berniat menyorot perilaku pengendara sepeda motor, khususnya tentang cara mereka memakai klakson. Dalam kepalanya, Sahrap sudah mereka-reka isi tulisannya. Dalam laptopnya Sahrap sudah membuat file dengan judul “Klakson Cap Tongkat Musa”. Frase “tongkat Musa” ditonjolkan oleh Sahrap karena amat cocok untuk menggambarkan cara para pengendara motor menggunakan klaksonnya. Setiap kali mereka menyalakan klakson, mereka mengharap semua kendaraan di depannya akan tersibak dan memberi jalan padanya. Ini persis seperti Musa yang memakai tongkatnya untuk menyibak air laut ketika dia ingin menyelamatkan umatnya.
File tersebut dibuat pada suatu hari Jumat. Pada hari Minggu setelahnya di surat kabar muncul tulisan kolom berjudul “Klakson”, dengan isi yang kurang lebih sama tapi dengan sudut pandang yang agak berbeda.
Seolah dituntun oleh tangan gaib, suatu kali Sahrap menonton satu film yang diputar di televisi yang menceritakan penelitian yang kesimpulannya membentuk sikap Sahrap yang terakhir. Penelitian tersebut dilakukan pada dua kelompok kera di satu pulau kecil. Pulau tersebut sebenarnya adalah satu gunung api yang muncul di tengah laut. Kelompok kera yang satu menempati satu kaki dari gunung tersebut. Sedangkan kelompok yang kedua menempati kaki lain dari gunung tersebut. Ada pemisah alami yang membuat dua kelompok kera tersebut tidak bisa berhubungan fisik antara yang satu dengan yang lain.
Satu hari, tim peneliti menemukan bahwa kelompok kera yang satu terlihat menemukan cara membuka buah kelapa, sehingga kera-kera itu bisa memakan isinya. Pada saat yang hampir sama, dalam kelompok kera yang lain terjadi pula hal yang sama, mereka menemukan cara membuka buah kelapa yang persis sama. Apakah ini suatu koinsidensi? Atau penyadapan lewat internet? Penelitinya bilang bahwa seolah terjadi komunikasi di antara dua kelompok kera itu, dari jarak jauh, dan tanpa alat, yang membuat kedua kelompok kera itu dapat saling menularkan kemampuannya.
Ada dua kejadian yang membuat Sahrap enggan memikirkan hal yang jelek-jelek, seperti bencana misalnya. Tapi kadang dia melakukannya tanpa sengaja. Suatu hari Sahrap menulis dan mengirim ke maling list, tulisan penuh canda tentang bagaimana disiplin ilmu dapat menyerap kebijaksanaan nenek moyang. Sahrap menganjurkan agar ahli teknik bisa membuat teknologi sedemikian sehingga air bisa mengalir di pipa dengan lancar seperti “air di daun keladi”. Mereka yang belajar manajemen sebaiknya mampu mengelola agar manusia bisa senantiasa produktif seperti yang diungkapkan peribahasa “duduk meraut ranjau, tegak meninjau jarak”. Lalu, mereka yang berprofesi sebagai penata wilayah sebaiknya mempertimbangkan resiko bencana alam di tiap tempat, sehingga “kalau takut dilebur pasang, jangan berumah di tepi pantai”. Beberapa bulan kemudian bencana tsunami melanda Aceh.
Yang terakhir adalah tulisan yang dimuat di blog, tentang pengalaman Sahrap yang tidak berhasil mendapat ruang untuk memarkir mobilnya di satu gedung parkir di kota J. Sahrap menulis bahwa dia harus mengemudi mobilnya mundur menuruni jalan dari lantai enam. Ini terjadi karena untuk memutar arah mobil saja pun tidak tersedia ruang. Ditulis oleh Sahrap bahwa dia sangat khawatir pantat mobilnya menabrak pagar pembatas lalu mobilnya jatuh dari lantai enam. Beberapa hari kemudian, di sebuah gedung parkir di kota J, ada sebuah mobil menabrak pagar pembatas sehingga jatuh dari lantai enam. Semua penumpangnya tewas seketika. Setelah itu Sahrap membuat rasionalisasi untuk menghilangkan rasa bersalah di hatinya : kejadian ini tidak terjadi karena inspirasi yang datang dari gagasan dia. Sahrap meyakinkan dirinya bahwa tulisannya lebih mungkin berlaku sebagai peringatan.
Koinsidensi, penularan inspirasi, atau pemancaran gagasan secara radio, atau peringatan, terus saja berlangsung. Sahrap pernah menulis pada laptop-nya, untuk persiapan kuliah yang dia berikan di satu sekolah tinggi teknik, tulisan mengenai macam-macam bentuk pemakaian sungai secara antroprologis. Beberapa minggu kemudian, muncul laporan perjalanan wartawan surat kabar yang selama berhari-hari menyusuri satu sungai besar di Pulau Jawa.
Kini Sahrap tergolek tidak berdaya di atas ranjangnya. Kanker sedang menggerogoti otaknya. Situasi keuangannya pun buruk karena dia terlalu keranjingan menulis, sehingga kurang menunjukkan kinerja di kantornya dan dia lalu kehilangan pekerjaan. Padahal tulisannya pun tidak menghasilkan uang. Tidak ada uang untuk berobat. Yang dia lakukan hanya memasrahkan dirinya pada Sang Pemilik Hidup. Yang paling dia sedihkan adalah karena dia jadi berhenti menulis. Siapa lagi yang akan menciptakan gagasan yang dapat memberi inspirasi pada orang-orang?
Satu hal yang masih ingin dibuktikan oleh Sahrap adalah apakah orang lain juga otaknya bisa bekerja seperti pemancar, sebagaimana terjadi padanya. Jika benar, maka Sahrap ingin menyerukan pada semua orang agar berhenti membuat gagasan buruk, karena walaupun hal itu masih dalam tahap dalam pikiran, pancarannya bisa menular ke banyak orang. Sahrap ingin semua orang di dunia berbuat yang sama seperti dia, berpikir yang baik-baik saja.
(Bintaro Jaya, 24 Juni 2007)

CINCIN SI CECEP

Ketika kami menyeberang Jl. Melawai, secara reflek tangan kanan saya memegang lengan kiri Susan. Sementara itu, sambil melangkah, mata mengawasi mobil-mobil yang datang dari dari arah kiri. Langkah saya atur agar kami tidak ditabrak mobil. Susan berusaha melepaskan pegangan saya, tapi tangan saya memegangnya makin erat.
Setelah sampai di seberang, baru dia saya lepaskan. Dua tangan saya angkat, telapak menghadap dia, seakan berjanji bahwa saya tidak memegang dia lagi. “Sorry, saya cuma melakukan tugas alamiah laki-laki … yaitu harus melindungi wanita. Saya cuma ingin kamu selamat ketika menyeberang jalan itu. Apakah laki-laki tidak berbuat seperti itu lagi di Belanda?” saya menyindir.
“Oke … tidak apa-apa kalau begitu. Di Belanda … hanya laki-laki yang saya sukai yang saya biarkan memegang lengan saya.” jawab Susan.
“Saya mengerti maksudmu. Apakah itu berarti kamu tidak menyukai saya?” sambut saya sambil tersenyum menggoda.
“Bukan begitu … maksud saya … aaah … please hentikan.”
“Tapi bisa dikatakan, ketika menyeberang tadi sebenarnya kamulah yang melindungi saya.”
“Bagaimana bisa?”
“Mobil-mobil di Jakarta hanya mau berhenti dan memberi jalan kalau yang menyeberang gadis yang cantik. Pasti kamu perhatikan tadi, semua mobil berhenti memberi jalan pada kita. Itu bukan karena saya tapi karena kamu.”
“Gombal …”
<>
Susan dikirim oleh Kantor Pusat di Belanda. Memang secara bergiliran, staff administrasi di Belanda datang ke Indonesia. Selalu ada saja yang mereka bisa kerjakan di Jakarta, memeriksa ini atau audit itu. Padahal itu semua sebenarnya dapat diselesaikan lewat email, tanpa harus datang sendiri dari Belanda ke Jakarta. Kesannya, mereka selalu mempunyai anggaran yang harus dihabiskan.
Ada yang memberi argumen bahwa staff di Belanda sekali-sekali perlu bertemu dengan mitranya di Jakarta, agar terjadi komunikasi yang baik. Oke … tidak ada masalah. Lagi pula, merekalah yang menjadi boss.
Tahun ini giliran seorang gadis berkacamata yang datang. Namanya Susan. Postur tubuhnya tidak setinggi orang Belanda yang lain. Jika dilihat dari belakang, orang akan menyangka dia gadis Indonesia.
Pada tahun-tahun pertama saya bekerja di kantor Perwakilan Jakarta ini, kalau ada staff Kantor Pusat datang ke Jakarta, selalu saya yang menghadapi. Tapi belakangan, saya biarkan staff yang lain berhubungan langsung dengan tamu Belanda. Saya tidak mengkhawatirkan lagi kesenjangan bahasa, justru ini kesempatan untuk mempraktekan Bahasa Inggeris bagi staff yang lain, toh materi yang diperiksa berkisar dari itu ke itu juga. Semua sudah tahu apa yang harus dilakukan. Bahkan saya akhirnya menjadi bosan sendiri.
Setelah beberapa hari di Jakarta, pagi-pagi Susan datang pada saya dan berkata: “Anang … saya punya sesuatu yang ingin saya bicarakan dengan kamu. Sebaiknya kita lakukan di luar kantor. Bagaimana kalau nanti kita makan siang sama-sama? Saya yang traktir.” Dalam hati saya bertanya-tanya, mengapa tidak dibicarakan di kamar saya saja seperti biasanya kalau dia sedang ada persoalan mengenai pekerjaan.
“Boleh juga … terutama karena kamu yang traktir,” saya bercanda.
“Saya harus menuntaskan ini sebelum saya pulang ke Belanda,” sambutnya dingin.
<>
Kami makan di restoran yang dia pilih di Blok M, setelah saya mengajukan beberapa pilihan restoran. Setelah makanan terhidang, baru Susan membuka pembicaraan yang menjelaskan kenapa dia mengajak saya makan siang bersama.
“Anang, kamu ‘kan muslim. Saya ingin tahu apakah benar laki-laki muslim boleh kawin dengan empat perempuan.”
Saya tidak tahu kemana arah pertanyaannya setelah yang satu ini. Tapi roman mukanya serius seperti biasa, tidak ada tanda ingin bercanda. Bola mata di balik kaca matanya terlihat membesar. Pasti dia sangat mengharapkan jawaban yang serius pula. Jadi saya harus menjawabnya hati-hati. “Poligami adalah pilihan, bukan kewajiban. Kalau tidak ada alasan yang kuat, kami tidak akan melakukannya. Dari 70 orang teman kuliah saya, hanya satu yang melakukan poligami. Mungkin itu bisa dipakai sebagai ancer-ancer angka statistik. Mengapa bertanya? Kamu sedang jatuh cinta pada seorang laki-laki muslim?” saya menggoda dia.
“Biasanya apa alasan laki-laki muslim melakukan poligami?”
“Mungkin karena kebutuhan seks. Mungkin karena keinginan mendapat keturunan. Atau, mungkin karena ketidak-cocokan inteljensia.”
“Bagaimana saya bisa tahu bahwa seorang laki-laki cenderung untuk poligami?”
“Saya tidak bisa memberi nasihat langsung untuk masalah yang itu. Kamu sendiri yang harus mencari dan menemukannya. Oleh karena itu komunikasi sangat penting. Kalau pacarmu punya keinginan seks yang kuat, kamu harus periksa diri kamu, apakah bisa melayaninya sampai dia berumur 60 tahun. Kalau dia sangat ingin mendapat anak, kamu harus periksa dirimu, apakah kamu subur. Kalau pacarmu karirnya bagus dan berpotensi menjadi CEO perusahaan besar, kamu harus periksa apakah kamu bisa mengembangkan diri sehingga selalu bisa tahu apa yang dia bicarakan nanti.”
“Ya … itu masuk akal.”
“Siapa sebenarnya laki-laki yang beruntung itu? Apakah saya kenal dia?” saya goda lagi Susan. Tapi dia tidak terpancing, dia tetap yang memimpin percakapan.
“Mungkin kamu bisa menjelaskan Anang, saya lihat ada beberapa laki-laki Indonesia yang sudah kawin tapi tidak memakai cincin. Kamu juga tidak memakai cincin, padahal kamu sudah kawin. Mengapa?”
“Saya sebenarnya berasal dari lingkungan yang biasa memakai cincin kawin. Tapi beberapa bulan yang lalu rumah saya dimasuki pencuri yang mempunyai spesialisasi mencuri perhiasan. Cincin kawin saya termasuk yang dia curi. Setiap kali saya mau membeli ganti cincin yang hilang itu, saya teringat pada kebiasaan tetangga saya memberi pita di leher kucing-kucing miliknya. Pita itu menjadi tanda bahwa kucing itu sudah ada yang punya. Sampai sekarang saya belum beli gantinya.”
“Saya mengerti maksudmu.”
“Ada juga sebagian orang yang tidak biasa memakai perhiasan, termasuk cincin kawin, karena alasan finansial. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa laki-laki sebaiknya tidak memakai perhiasan emas. Yang terakhir ini biasanya memakai cincin dari bahan bukan emas.”
“Anang, bisa dikatakan kamu adalah staff paling senior di Kantor Perwakilan Jakarta. Kamu pasti tahu semua orang-orang di kantor. Pertanyaan saya, apakah Cecep sudah kawin.”
“Sekarang kamu baru buka kartumu. Ternyata kamu naksir Cecep ... he … he ..he.”
“Please hentikan itu …”
“Oke … Cecep sudah menikah. Positif. Saya sendiri datang ke resepsinya, sekitar tiga bulan yang lalu.”
“Tapi mengapa Frida dan Tatiek bilang Cecep belum menikah. Kalau memang Cecep menikah tiga bulan yang lalu, artinya dia sudah bekerja di kantor Perwakilan Jakarta. Frida dan Tatiek sudah menjadi teman Cecep satu kantor. Bagaimana bisa mereka tidak diundang ke resepsi?”
“Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Mungkin Cecep mempunyai alasan, tapi dia tidak pernah bilang pada saya. Dia juga punya sifat pemalu, tidak mau menjadi pusat perhatian.”
“Anang … kamu tidak bermaksud menghalangi saya berhubungan dengan Cecep, ‘kan?” nadanya meninggi.
“Ooh Susan … kamu tidak benar-benar punya pikiran jelek seperti itu pada saya ‘kan? Kalau Cecep masih bujangan, dengan senang hati saya akan jadi mak-comblang. Saya yakin kalian bisa mempunyai anak yang ganteng, cantik dan pintar. Tapi karena Cecep sudah kawin, saya justru ingin melindungi kamu. Kalau Cecep mendekati kamu, saya harus memperingatkan kamu. Bukankah kamu juga tidak setuju poligami. Lagi pula, tidak banyak kisah sukses dari praktek poligami, apalagi yang melibatkan orang satu kantor. Apakah Cecep mendekati kamu?”
“Tidak secara khusus sih. Tapi saya bisa merasakannya.”
<>
Pecakapan dengan Susan itu, mengingatkan saya pada percakapan saya dengan Tatiek sekitar tiga bulan yang lalu. Setelah saya menyebut bahwa Cecep baru kawin, Tatiek memperlihatkan roman muka tidak suka pada saya. Percakapan tersebut berakhir dengan ucapan Tatiek bahwa saya berusaha menghalangi hubungan Tatiek dengan Cecep.
Ketika Cecep baru bergabung di kantor Perwakilan Jakarta, dia langsung menjadi incaran para gadis lajang di kantor. Walaupun Cecep tidak agresif mendekati mereka, tapi apa-apa yang dia punyai sudah memenuhi kriteria yang ditetapkan para gadis. Badannya ramping, sehingga pakaiannya bisa rapih dan pantas. Kulitnya bersih dan berwarna terang seperti umumnya priyayi di Jawa Barat. Kalau berbicara nadanya enak sehingga orang tidak sadar bahwa dia sedang menyuruh. Pendidikannya sarjana sehingga dianggap mempunyai masa depan yang baik di perusahaan. Satu kebiasaan baik dari dia, yang bisa berakibat buruk karena berpotensi membuat salah paham, yaitu tidak bisa menolak permintaan tolong dari orang lain.
<>
Tanpa kelihatan oleh Susan, sore itu saya memanggil Cecep ke kamar saya.
“Cep, saya ingin menceritakan sesuatu. Tapi jangan menjadi besar kepala setelah mendengarnya.” Lalu saya ceritakan percakapan saya dengan Susan pada waktu makan siang, dan percakapan dengan Tatiek tiga bulan yang lalu. “Kalau boleh saya usul, pertama, janganlah kamu melakukan sesuatu yang bisa ditafsirkan para gadis sebagai tanda bahwa kamu naksir sama dia. Kedua, jangan menyembunyikan fakta bahwa kamu sudah kawin. Jangan memperpanjang daftar gadis yang kamu kecewakan.”
“Soal Susan … Pak Anang … sebenarnya itu gara-gara Pak Wilson dan Pak Garin. Setiap pagi ada saja yang mereka katakan pada Susan, yang dapat membuat Susan mengira saya menaruh hati pada dia. Misalnya, mereka bilang ke Susan bahwa saya ingin mengajak Susan nonton. Lain kali, mereka bilang saya ingin mengajak dia ke Kebun Raya. Paling sedikit, mereka bilang ada titip salam dari saya untuk Susan.”
“Yaa… mungkin itu rejeki kamu Cep … disukai gadis-gadis. Tapi kalau bisa, kamu pakai deh cincin kawinmu. Atau, selipkan foto pernikahanmu di antara meja dan kacanya. Kayaknya kita semua harus bikin acara dengan Susan sebelum dia pulang, untuk menghibur kekecewaan dia.”
“Saya usul kita pergi ke Kebun Raya saja Pak. Kalau boleh, saya akan membawa beberapa teman kuliah saya yang masih bujangan, siapa tahu ada yang cocok dengan Susan, atau paling tidak cocok dengan Tatiek ‘lah.”
“Kok kedengarannya kamu seperti mengatakan bahwa lebih sulit mencari laki-laki yang cocok untuk Susan.”
“Menurut pengamatan saya dia tipe wanita yang cenderung untuk memilih laki-laki, mengambil inisiatif. Itu bukan tipe untuk saya. Tapi saya yakin ada laki-laki yang dapat menjadi pasangan yang serasi untuk Susan.”

(Bambang Setiawan, Bintaro Jaya V, Agustus 2006)

Senin, 30 April 2007

AKI CAMAN

Tahun 1964. Siga aya beker dina jero awakna, unggal poe Pa Caman hudangnya pasti dina waktu anu sarua, jam satengah lima. Padahal euweuh ieuh anu ngageuingkeun. Jeung deuih bororaah boga beker. Pa Caman hudangna teu make ngahuleng heula ngumpulkeun pangacian siga batur. Estuning ari beunta terus kuniang hudang.

Sanggeus nimba cai di sumur, ngeusian bak keur sapangeusi imah, Pa Caman mandi. Baju paranti gawe, anu bahanna tina dril warna sepe, geus sadia di enggon. Geus diistrika jeung ditilepan ku pamajikanana. Terus ka dapur, kopi panas jeung kulub hui, selang-selang jeung kulub sampeu atawa seupan cau, geus nyampak keur sasarap. Kasebutna oge sasarap, asal aya dahareun salapis ipis dina beuteung tamba asup angin. Siga aya beker dina awakna, anu ngabejaan ka Pa Caman yen sasarapna tong loba teuing ngarah tong lila teuing. Rap kana sapatu tenis anu barolong.

Memeh kaluar tina panto, pamajikannana ngasongkeun jeket keur ngarangkep saluareun bajuna ngarah teu tiris. Di luar, teu jauh tina panto, gap Pa Caman kana sapu nyere gagangan, reujeung kored. Tuluy leumpang mapay gang. Nu ngadoa bada Subuh di langgar reang keneh, Pa Caman ngan apal sawareh. Apal soteh pedah mineng ngadenge ari indit gawe, lain pedah diajar basa jaman budak.

Beak gang bras ka jalan, Pa Caman leumpangna ngagancangan sieun kabeurangan. Nu diburu Jalan Kebonjati, jalan anu kudu disapuan ku manehna. Ti pertelon Jalan Cikole manehna ngamimitian sasapu, maju ngaler. Naha bet kudu poek keneh sasapu teh? Pa Caman tara tatanya, manehna ngan ukur migawe sakumaha panitah Mandor. Lamun ceuk Mandor kitu, nya kudu kitu nu dipigawe. Tapi tina pangalaman babaturanna nu sok kabeurangan datang, cenah mah leuwih hese lamun sasapu mangsa jalan geus kapanasan. Kokotor-kokotor jalan saperti kebul, tai kuda delman jeung dangdaunan, leuwih hade lamun disapukeunnana keur rada baseuh keneh. Lamun geus garing kapoyanan, kokotor teh sok haliberan siga nu sieuneun disapuan.

Salian ti kitu, ku sabab beuki beurang mah beuki loba jelema jeung mobil anu ngaliwat, anu rek ka kantor atawa rek sakola, tangtu sasapuna ge jadi leuwih hese, lantaran pabeulit jeung nu ngaliwat. Kokotor ge bisa jadi baralik deui ka tengah jalan katiup ku angin mobil ngaliwat. Jadi, ku sabab sababaraha alasan eta, penting pisan keur Pa Caman saparakanca kudu ngamimitian gawe ti keur poek keneh, jeung kudu rengse saencan jelema lian lumaku.

Si kokotor biasana disapukeun ti tengah jalan kasisi, digundukeun di tempat-tempat anu geus pasti. Rada beurang aya baturna Pa Caman narik roda, ngangkatan gundukan-gundukan eta kana roda, nepi ka beresih pisan.

Mangsa bray-brayan Pa Caman sasapuna geus ngadeukeutan simpangan Jalan Bunut. Biasana Mandor datang mariksa. Tapi biasanya ngan ukur ngaliwat dina sapedah. Mandor geus percaya pisan yen pagawean Pa Caman pasti anggeus jeung beres saluyu jeung parentah Mandor. Malahan Pa Caman ngahaja dititah nyapuan Jalan Kebonjati teh, lantaran jalan ieu teh lalangkungeun Walikota ti bumina ari bade ka kantorna. Jadi jalan ieu kudu pang beresihna. Hiji hal anu ku Mandor embung kaalaman saumur hirupna, nyaeta dicarekan ku dunungan pedah teu bisa gawe. Komo lamun kasalahan teh kapendakna ku Walikota pisan, tada teuing matak erana.

Pancen ti Mandor keur panyapu siga Pa Caman tara ieuh ditulis pereleannana. Komo deui lamun diinget yen meh kabeh penyapu teu bisa maca, jadi euweuh gunana tulisan perelean pancen teh. Tapi ku bisana Mandor ngatur, jeung ku disiplinna Pa Caman saparakanca, jalan-jalan di kota Sukabumi bisa beresih dina waktuna.

<>

Beres sasapu jalan, Pa Caman leumpang ka kantor Walikota anu harita katelahna kantor Kotapraja. Di dinya manehna lapor ka salah sahiji pagawe, ngarah teu dianggap mangkir. Tuluy neangan inumeun, biasana mah disadiakeun cai enteh panas. Entehna enteh bewok, katempo ngarambang saluhureun cai sababaraha lambar daun, lolobana mah regang enteh garing. Sanggeus digiling, si regang enteh teh katempona siga janggot. Mun can beakeun, sok aya gula batu. Nginumna diselang-selang ngenyot roko daun kawung, sarta ngobrol jeung batur-baturna anu ngumpul di tukangeun kantor. Sabenerna pancen Pa Caman unggal poe ngan sakitu.

Kira-kira jam sapuluh, Pa Caman indit ka bumina Pa Prawira, padamel luhur di kantor Walikota. Ieu mah di luar pancen ti Mandor. Di bumi Pa Prawira biasana Pa Caman sok dititah memeres kebon ku Bu Prawira, atawa bunta-bantu nu sejen. Sok diburuhan, lumayan keur nambah-nambah. Biasana memeh prak digawe, sok dititah dahar heula. Dahareunnana sesa sasarap Pa Prawira.

Hiji poe basa Pa Caman muka jeketna, ku Bu Prawira katitenan yen baju Pa Caman teh sanajan geus lalayu sekar, etuning beresih jeung rapih. Ceuk Bu Prawira : “Pa Caman, saha anu sok nyeuseuh jeung ngistrika baju di bumi? Mani beresih jeung rapih deuih.”

“Ah sanes ku sasaha Enden, ku pun bojo bae.”

“Kinten-kintenna kersaeun lamun nyeuseuh sareng ngistrika di dieu? Teu kedah ngendong, da caket ieuh.”

“Tiasa sigana mah Enden. Engke geura sonten urang taroskeun.”

Cindekna Ma Caman geus gawe di bumi Pa Prawira. Kulantaran gawena di jero imah, loba waktu keur Bu Prawira jeung Ma Caman bisa ngobrol duaan.

“Pa Caman sareng Ema teh benten umurna tebih pisan, lima belas taun. Ayeuna Pa Caman genep puluh, Ema opat lima.” Ma Caman nga-emakeun.

“Kumaha kapungkur papendakna?”

“Kapungkur papendakna di kontrak … di Jampang. Pa Caman ngurus kebon di bumi Tuan, Ema babantu di dapur.”

“Tuan naon?”

“Duka namina mah saha. Tapi nu tangtos mah Walanda. Tadina mah teu nyangka bade ngajodo da Pa Caman, da Pa Caman mah seueur nu bogoheun, gareulis deuih. Ema mah ngarumasakeun maneh, nya pendek nya goreng patut. Malahan ka si Pa Caman mah Nyonya Walandana oge bogoheun.”

“Ah maenya ….”

“Eeh muhun Enden… Ema mah sering ningali Pa Caman kaluar ti kamar Nyonya bari memener sampingna. ”

“Atuh kumaha lamun kanyahoan ku Tuan Walandana … meureun ngambek.”

“Biasana mah siang-siang, lamun Tuan nuju aya di pabrik atawa di kebon. Janten Tuan moal terangeun”

“Nu sok seueur kabejakeun teh biasana mah Tuan Walanda gaduh nyai. Jadi sok mineng kapanggih di kampung-kampung sakuriling kontrak sok aya awewe atawa lalaki geulis, irungna mancung, kulitna bodas siga Walanda. Moal lepat maranehannna teh turunan Walanda.”

“Muhun da kitu pisan buktosna teh. Aya nu diurus ku Tuanna, di candak mulih ka Holan. Aya oge nu di lurkeun. Aya oge anu diteang deui saatos merdeka, dipilarian, teras dicandak kaditu. Basana teh, kapungkur teu kabujeng dicandak da teu sirikna lumpat kabur sieun ku Jepang.”

“Ieu mah panasaran bae nya Ma Caman, tong bendu. Kinten-kintenna si Nyonya gaduh putra atawa henteu ti Pa Caman?”

“Nya aya bae panginten sahiji-hijieun.”

“Naha sahiji-hijieun?”

“Sababaraha kali gentos Tuan … Nyonyana biasanya kapincut bae ku Pak Caman. Kitu deui kitu deui.”

“Ah Ma Caman mah … boa ngalereskeun samping teh pedah morosot bae, sanes pedah tos ngagentenan Tuan.”

“Ari Enden … kapan Ema teh damelna di antawisna nyeuseuh, kalebet nyeuseuh sepre. Sok katawis aya kerak dina sepre. Padahal sepre nembe digentos.”

“Jadi lamun urang ayeuna ka Walanda, bisa-bisa papendak sareng Walanda anu rarayna siga Pa Caman, halisna ngejepat hideung, kasep atawa geulis, rambutna hideung, panonna hideung bolotot. Mun nya papendak, eta the lanceukna Nyi Surti meureun nya?”

“Ari Nyi Surti mah sanes putra leres. Basa jaman Jepang, kebon sareng pabrik janten teu patos kaurus. Komo saparantos Jepang marulih mah, beuki teu kaurus pabrik teh da meus-meus diganggu ku gorombolan. Janten Pa Caman, Ema sareng sababaraha rerencangan ka kota milari pidamelan ka kantor Kotapraja. Ku Pa Caman Ema diajak nikah, ngarah tiasa sabumi cenah. Duka tos seepeun, maduna diseuseup Nyonya Walanda, atanapi aya sabab nu sanes, Pa Caman sareng Ema mah teu gaduh putra sakitu tos kawin lima belas taun. Ari Nyi Surti, eta mah putra rerencangan anu sasarengan ti kontrak, anu maot katubruk mobil basa nuju nyapu. Teu gaduheun baraya, janten diajakan bae, kaleresan daekeun.”

“Paingan atuh Ma Caman nyeuseuhna beresih, ngistrikana mani rapih, eta teh pasti hasil atikan ti bumi Nyonya Walanda. Nya kitu deui Pa Caman, rajin didamelna, nurut ka dunungan. Pasti eta hasil pendidikan di Tuan sareng Nyonya Walanda.”

Ma Caman irungna kembung asa kapuji.

“Kamari mah aya tamu milarian Bapa, disangkana Ema teh mertuana Pa Prawira, ibuna Enden. Eta panginten pedah urang mah sami-sami pendek he … he … he. Si tamu teu terangeun yen Ema the ngan ukur badega di dieu.”

“Kieu bae atuh Ma Caman … abdi teh kapan tebih ti kolot … Ma Caman oge kapan estuning teu gaduh dulur pisan … kumaha lamun barudak abdi nyebat ka Ma Caman teh Nini Caman bae. Ka Pa Caman nyebatna Aki Caman. Ku jalan kitu urang teh apan jadi asa jeung baraya.”

“Teu langkung Enden … Ema mah ngiringan bae.”

Sangkan hirup genah di dunya, kudu silih titipkeun diri, digawe soson-soson ngalaksanakeun nu geus jadi pancen.